Indonesian Basketball League (IBL) sedang melakukan valuasi klub peserta sebagai bagian dari upaya untuk mengukur perkembangan industri bola basket di Indonesia. Direktur Utama IBL, Junas Miradiarsyah, mengungkapkan bahwa valuasi klub ini menjadi langkah awal dalam mengevaluasi kinerja klub peserta dan sebagai standar dalam upaya bisnis mereka ke depan. Ini menandai pergeseran dari sekadar kompetisi menuju industri olahraga yang lebih profesional. Valuasi klub mempertimbangkan berbagai faktor seperti basis penggemar, kontrak pemain, sejarah prestasi, dan aset berwujud yang dimiliki klub. Metode perhitungan valuasi ini telah disosialisasikan kepada klub peserta untuk memberikan masukan terkait variabel yang perlu diperhitungkan.
Junas menekankan bahwa di balik pertandingan di lapangan, terdapat dinamika bisnis yang kompleks seperti pemasaran, pengelolaan fanbase, penjualan tiket, merchandise, sponsorship, dan hak siar. Tujuan dari pengukuran valuasi ini adalah membantu klub dalam pengelolaan keuangan, pengembangan fanbase, dan penandatanganan kontrak dengan pemain. Hal ini juga dapat menjadi panduan bagi klub dalam merencanakan strategi bisnis jangka menengah dan panjang. Meski ada tantangan dalam aspek bisnis, Junas berharap valuasi ini bisa menjadi tolak ukur yang mendorong klub untuk berinovasi dan memanfaatkan potensi pasar yang ada.
Langkah valuasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang IBL yang telah dirancang sejak beberapa tahun lalu, dan merupakan hasil kemitraan IBL dengan B-League Jepang. Hasil akhir perhitungan valuasi ini akan diumumkan pada 7 Maret, termasuk nilai dan peringkat dari seluruh klub peserta IBL. Ini adalah langkah penting dalam memberikan panduan dan sebagai mitra bagi klub untuk berkembang dan bersaing di industri bola basket Indonesia.








