Doel dan istrinya dari warga Pekayon, Jakarta Timur, tidak terhalang hujan rintik-rintik saat mereka pergi menunaikan salat tarawih di bulan Ramadan di Masjid Tjia Khang Hoo. Meskipun ada masjid yang lebih dekat, mereka lebih memilih masjid ini karena atmosfernya yang nyaman dan membantu mereka beribadah dengan khusyuk. Bentuk luar masjid menyerupai kelenteng dengan lima pagoda yang melambangkan lima rukun Islam dan banyak ornamen tradisional Tionghoa. Di bagian dalam, warna merah dan emas mendominasi, mencerminkan keberuntungan dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat beribadah bagi Doel, tetapi juga sebagai wadah untuk merawat toleransi di antara penduduk sekitar, termasuk keluarga Tionghoa dengan keyakinan yang beragam. Sebelum dijadikan masjid, bangunan ini dulunya merupakan rumah Tjia Khang Hoo yang kemudian diwakafkan oleh anaknya menjadi masjid untuk warga sekitar. Selain ornamen Tionghoa yang kental, masjid ini juga mencampurkan unsur budaya Betawi dengan lisplang bercorak gigi balang di bagian atap. Masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama dan merayakan berbagai hari besar, menunjukkan harmoni antara agama dan budaya di sekitarnya.
Masjid Tjia Khang Hoo: Simbol Toleransi Agama dan Budaya
RELATED ARTICLES







