Friday, January 16, 2026
HomeFinansialBI Diprediksi Tetap pada Suku Bunga 5,75% di Rapat Maret

BI Diprediksi Tetap pada Suku Bunga 5,75% di Rapat Maret

Koreksi terjadi di IHSG di tengah pasar saham AS yang menunjukkan hasil positif kemarin dan pasar saham Asia yang lebih mengarah ke zona hijau pada hari ini. Menurut Kepala Ekonom dari PermataBank, Josua Pardede, suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate kemungkinan akan dipertahankan pada level 5,75 persen dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Maret 2025 yang akan diumumkan pada Rabu (19/3). Josua menjelaskan bahwa ketidakpastian global yang tinggi masih menjadi pertimbangan utama.

Meskipun ada indikasi penurunan suku bunga AS, Josua mencatat bahwa data inflasi AS yang menurun belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari perang dagang yang semakin intens pada bulan Maret. Hal ini dapat meningkatkan kembali inflasi AS yang kemudian berdampak pada stabilitas rupiah. Selain itu, outlook fiskal juga sedikit memburuk seiring dengan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bulan Februari 2025.

Investor tidak hanya menantikan hasil rapat RDG BI, tetapi juga hasil rapat dari Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS yang akan berlangsung pada 18-19 Maret 2025. Baik BI maupun FOMC diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan mereka, mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi terkait kebijakan tarif impor AS.

IHSG ditutup pada Selasa dengan koreksi sebesar 3,84 persen, turun 250 poin ke level 6.223. Bahkan sebelumnya, IHSG sempat turun lebih dari lima persen hingga BEI melakukan trading halt. Pada penutupan sesi perdagangan I, IHSG turun 395,87 poin atau 6,12 persen ke posisi 6.076,08. Sebagian besar sektor, seperti sektor teknologi, material dasar, energi, dan keuangan, mengalami koreksi tajam.

Data terbaru menunjukkan penjualan ritel AS pada Februari 2025 mengalami rebound, meskipun masih di bawah perkiraan. Hal ini mencerminkan pemulihan yang lambat dalam permintaan konsumen dan meningkatkan ekspektasi terhadap sikap dovish dari Fed selama pertemuan FOMC. Sejumlah faktor, seperti pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh OECD dan harga komoditas batu bara yang turun, turut mempengaruhi sentimen negatif di pasar keuangan domestik.

Source link

RELATED ARTICLES

Paling Populer