Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan bahwa nilai tukar (kurs) rupiah melemah akibat perang dagang yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Hal ini telah menyebabkan pelemahan mata uang rupiah serta diperkirakan akan membawa nilai tukar hingga mencapai level Rp16.900 hingga Rp17.000. Salah satu faktor penyebab pelemahan ini adalah kenaikan tarif yang diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump, terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sebagai negara yang terkena dampak, Indonesia berada di urutan kedelapan daftar negara yang mendapat kenaikan tarif dari AS. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap kondisi perdagangan dan nilai tukar rupiah. Di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya yang terdampak adalah Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.
Dalam menghadapi situasi ini, Ibrahim menyarankan agar Pemerintah Indonesia memberlakukan biaya impor yang sebanding dengan tarif yang diberlakukan AS terhadap Indonesia. Selain itu, negara ini juga dapat mencari pasar baru untuk melakukan ekspor, seperti BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa). Diperlukan juga stimulus dari pemerintah untuk menangani dampak dari perang dagang yang terjadi.
Lebih lanjut, Ibrahim menekankan pentingnya intervensi dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang rupiah. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat siap menghadapi perang dagang yang dilancarkan oleh AS dan meminimalkan dampak negatifnya. Semua langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar global.








