Bank Tabungan Negara (BTN) tengah mengupayakan peningkatan layanan digital untuk menarik lebih banyak nasabah segmen konformis dan konservatif. Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan bahwa segmen ini merupakan target utama karena memiliki loyalitas tinggi terhadap layanan perbankan syariah. Meskipun demikian, perbaikan teknologi digital di bank syariah yang dimiliki perlu dilakukan agar segmen tersebut tertarik untuk ber-bank di sana.
BTN berencana memasang target pertumbuhan bisnis yang progresif untuk segmen konformis dan konservatif yang masih memiliki potensi besar. Dalam waktu 5 tahun ke depan, BTN tengah finalisasi rencana bisnis untuk bank umum syariah (BUS) baru hasil spin-off UUS dan peleburan dengan Bank Victoria Syariah. Nixon LP Napitupulu, Direktur Utama BTN, menargetkan BUS ini menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia dalam 2-3 tahun mendatang.
Dengan fokus pada digitalisasi layanan perbankan, BUS baru akan menambah sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan teknologi. Bisnis utama BUS akan tetap berfokus pada kredit kepemilikan rumah (KPR) berbasis syariah. Selain itu, produk-produk consumer banking akan dikembangkan lebih lanjut termasuk produk seputar emas seperti cicil emas atau tabungan emas.
Agar proses penetrasi nasabah lebih cepat, Nixon menjelaskan bahwa seluruh cabang BTN akan menyediakan kantor layanan syariah. Dengan diambil alihnya saham mayoritas PT Bank Victoria Syariah senilai Rp1,5 triliun, BTN berharap proses spin-off UUS selesai pada Oktober atau November 2025. BTN optimis bahwa dengan lahirnya BUS baru ini, ekosistem syariah di Indonesia akan semakin berkembang. Aset BTN Syariah mencapai Rp61,19 triliun per akhir Maret 2025, memperkuat posisi sebagai pemain besar di industri perbankan syariah Indonesia.


