Bank Indonesia memproyeksikan bahwa inflasi DIY akan tetap terjaga dalam rentang target 2,5 persen plus minus 1 persen (yoy). Menurut Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, penurunan harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah telah menyebabkan deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan pada Mei 2025. Deflasi ini terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau karena berlimpahnya pasokan komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.
Dikatakan bahwa ketersediaan pasokan komoditas dari sentra produksi di Muntilan, Wates, serta beberapa wilayah di luar Jawa seperti Sulawesi menjadi faktor utama dalam penurunan harga. Meskipun permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha terpantau cenderung normal. Secara tahunan, inflasi DIY sebesar 2,04 persen lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 2,28 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender hingga Mei 2025 mencapai 1,56 persen.
Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,16 persen dan 0,14 persen secara bulanan. Namun, secara tahunan Gunungkidul mengalami inflasi sebesar 2,17 persen yang lebih tinggi dibandingkan Kota Yogyakarta yang tercatat sebesar 1,88 persen. Sementara itu, peningkatan harga emas perhiasan menyumbang deflasi sebesar 0,03 persen.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Dukungan dilakukan melalui program-program seperti operasi pasar, Kios Segoro Amarto sebagai acuan harga, kampanye belanja bijak, serta kerja sama antar daerah untuk kebutuhan pangan strategis. Bank Indonesia memastikan bahwa inflasi DIY pada tahun 2025 akan tetap terjaga dalam rentang target yang telah ditetapkan.


