Desakan evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berasal dari pemerhati berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, hak anak, hingga emak-emak. Pelajar di Jawa Barat juga menyerukan perlunya evaluasi terhadap program tersebut terutama karena masih ada kasus keracunan makanan yang terjadi. Poros Pelajar Jabar, yang merupakan jaringan siswa dari berbagai organisasi pelajar di provinsi tersebut, telah menyampaikan desakan mereka kepada DPRD Jabar terkait program MBG.
Organisasi pelajar seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Ikatan Pelajar Putri Indonesia (IPPI) turut membentuk suara dan kajian terkait evaluasi program MBG. Mereka menyampaikan naskah akademik evaluasi tersebut kepada DPRD Jabar pada akhir September 2025. Dalam naskah tersebut, para pelajar mengutarakan keprihatinan atas kasus keracunan yang terjadi di berbagai tempat di Jawa Barat akibat program MBG.
Dalam audiensi dengan Anggota DPRD Jabar dari Fraksi Gerindra, George Edwin Sugiharto yang berlangsung di Kantor DPRD Jawa Barat, naskah kajian aliansi pelajar diserahkan sebagai respons terhadap masalah keracunan massal yang dialami oleh pelajar. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa sebanyak 2.080 pelajar di Jawa Barat menjadi korban dari program MBG tersebut, dengan kasus terbaru terjadi di Desa Luragung, Kabupaten Kuningan.
Poros Pelajar memberikan empat rekomendasi kritis kepada DPRD Jabar terkait program MBG, antara lain memperkuat dasar hukum, desentralisasi pengelolaan, pembentukan komite pengawas independen, dan reformasi kemitraan ekonomi lokal. Para pelajar menekankan pentingnya melibatkan pelajar sebagai mitra kritis dalam pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini menjadi langkah awal dalam mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di Jawa Barat.


