Insomnia, yang seringkali disebabkan oleh kesulitan tidur atau terbangun berkali-kali di malam hari, dipicu oleh faktor-faktor tertentu seperti ukuran hunian dan lamanya waktu perjalanan ke tempat kerja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Osaka Metropolitan University, commuting jauh untuk bekerja dapat mengurangi durasi tidur seseorang dan meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti hipertensi, stres, kelelahan, dan obesitas.
Di sisi lain, tinggal di perumahan di daerah perkotaan yang dekat dengan tempat kerja juga dapat berdampak negatif terhadap kualitas tidur seseorang. Polusi suara, cahaya, dan udara di perkotaan dapat membuat tidur seseorang terganggu, memicu insomnia dan rasa kantuk di siang hari. Hal ini dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.
Dalam penelitian ini, terungkap bahwa tingkat insomnia meningkat jika waktu tempuh perjalanan ke tempat kerja melebihi 52 menit, terutama untuk pekerja berusia 40-59 tahun di kota Tokyo, Jepang. Para peneliti menggunakan survei daring dan metode pengambilan sampel acak berlapis untuk mengevaluasi hubungan antara commuting, tingkat insomnia, dan kualitas tidur para responden.
Hasil penelitian ini menjelaskan pentingnya mengurangi waktu perjalanan dan memperhatikan lokasi serta ukuran hunian dalam meringankan insomnia para komuter. Professor Daisuke Matsushita dari Sekolah Pascasarjana Kehidupan Manusia dan Ekologi Universitas Metropolitan Osaka menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan tidur yang lebih baik bagi penduduk metropolitan.
Penelitian ini diharapkan dapat mempengaruhi perencanaan kota dan kebijakan perumahan di masa mendatang, untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung kesehatan tidur masyarakat. Dengan demikian, memperhatikan faktor-faktor seperti waktu perjalanan dan lokasi hunian dapat membantu mengurangi masalah tidur dan meningkatkan kesejahteraan para komuter di perkotaan.


