Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2025 mencatatkan rekor baru dengan lebih dari 60 persen terserap ke sektor produksi menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga. Sinergi antara pemerintah dan bank-bank merupakan faktor utama keberhasilan penyaluran KUR, terutama bank BRI yang sukses menyalurkan 70 persen dari Rp300 triliun dana KUR. Sebanyak Rp203,5 triliun telah tersalurkan ke sekitar 3,45 juta debitur atau 67,6 persen dari target tahunan. Lebih dari 60 persen dana terserap ke sektor produksi, seperti usaha pengolahan, pertanian, dan perikanan, menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini memiliki dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas ekspor, dan daya saing UMKM di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian UMKM, KUR mikro masih mendominasi dengan Rp138,22 triliun kepada lebih dari 3,15 juta debitur, sementara KUR kecil mencapai Rp64,9 triliun kepada sekitar 264 ribu debitur. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekitar 61 persen sementara menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja nasional. Integrasi antara penyaluran KUR dan digitalisasi UMKM dianggap kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Kombinasi ideal antara pembiayaan dan digitalisasi diharapkan dapat memperkuat daya saing UMKM Indonesia.
Dorongan kebijakan tahun depan yang menaikkan plafon KUR menjadi Rp320 triliun dengan peningkatan pagu subsidi bunga sebesar Rp36,5 triliun diharapkan tidak hanya bersifat stimulus fiskal, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi yang lebih mandiri. Lamhot Sinaga berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat harus ditopang oleh kemandirian pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia, dengan KUR dan digitalisasi sebagai dua pilar penting menuju arah tersebut. Sinergi antara program KUR dan digitalisasi diharapkan dapat menjadi landasan kuat dalam memajukan UMKM dan ekonomi Indonesia ke depan.


