Penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di lima bank umum diprediksi akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan PDB nasional, menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Namun, potensi peningkatan tersebut baru akan optimal jika dana tersebut disalurkan secara efektif ke sektor produktif seperti manufaktur yang dapat menyerap tenaga kerja. Dalam acara Wealth Wisdom 2025 di Jakarta, Josua juga menyoroti kebijakan penempatan dana di Himbara yang dianggap dapat meningkatkan likuiditas perbankan serta memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, injeksi dana pemerintah tidak hanya akan berdampak positif terhadap likuiditas perbankan, tetapi juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sekitar 1,72 poin persentase. Namun, tantangan utama yang dihadapi sektor perbankan adalah peningkatan permintaan kredit yang saat ini belum optimal. Banyak pelaku usaha yang masih menunggu kepastian ekonomi global dan stabilitas pasar domestik sebelum melakukan ekspansi.
Selain itu, tambahan likuiditas yang besar di perbankan juga dapat berdampak pada inflasi, meskipun secara moderat. Peningkatan perputaran uang dapat memicu kenaikan inflasi sekitar 0,3-0,5 poin persentase. Oleh karena itu, efektivitas kebijakan ini sangat tergantung pada sinergi antara pemerintah, sektor perbankan, dan dunia usaha dalam mendorong permintaan kredit yang lebih baik.
Diharapkan, implementasi stimulus ekonomi “8+4+5” juga dapat memperkuat kegiatan ekonomi riil dan meningkatkan permintaan kredit sehingga dampak positif dari injeksi dana terhadap pertumbuhan ekonomi bisa lebih terasa. Josua juga menegaskan bahwa pentingnya keseimbangan antara penawaran dan permintaan kredit agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terus berkembang.


