Malam itu, langit di Buduran, Sidoarjo terasa lebih gelap dan kelam. Di antara reruntuhan gedung Pondok Pesantren Al Khoziny, seorang ayah bernama Muhammad Siyam (40) berdiri dengan wajah lelah dan mata yang nyaris tak bisa menahan air mata. Sembilan hari lamanya Siyam mencari putranya, Farhan (17), santri kelas dua madrasah aliyah, yang menjadi salah satu korban ambruknya gedung pondok pesantren itu. Total sembilan hari ia terjaga di Posko SAR Gabungan, dari pagi hingga malam menanti kabar, hanya dengan satu harapan menemukan anaknya. Apapun keadaannya.
Tak hanya Siyam, sejumlah keluarga besarnya juga terus mencari keberadaan Farhan. Ke sejumlah rumah sakit di Sidoarjo. Namun hasilnya masih nihil. Farhan akhirnya ditemukan pada Selasa (7/10) malam, setelah sembilan hari pencarian. Saat itu, jenazahnya teridentifikasi di RS Bhayangkara. Bagi keluarga, penantian panjang itu berakhir dengan kepedihan. Bagi keluarga besarnya, Farhan bukan hanya anak pendiam. Ia dikenal santun, taat beribadah, dan tekun belajar agama. Sejak lulus SD, ia memilih mondok di Al Khoziny, pesantren yang telah menjadi rumah keduanya selama lima tahun terakhir.
Farhan dikenal jarang bicara, namun perilakunya mencerminkan kedewasaan yang tumbuh lebih cepat dari usianya. Ia sering terlihat ke musala untuk salat berjamaah saat pulang ke rumah, terutama ketika ia berlibur pada peringatan Maulid Nabi, sekitar sepuluh hari sebelum tragedi terjadi. Pertemuan terakhir antara Khoiru dan Farhan terjadi secara singkat, di jalan, saat keduanya sedang menuju acara pengajian. Sebuah momen singkat, tapi kini menjadi kenangan yang terus melekat.
Di mata keluarganya, Farhan adalah sosok yang sederhana dan tak banyak menuntut. Ia tak pernah bercerita tentang cita-citanya, tapi pernah berpesan agar adiknya, yang kini masih kelas tiga SD, disekolahkan di sekolah Islam agar kelak lebih mudah menyesuaikan diri jika ingin mondok. Pesan sederhana itu kini menjadi warisan kecil yang membekas di hati keluarga. Dan hal itu akan mereka lanjutkan. Bagi keluarga, kehilangan ini berat. Namun mereka memilih untuk menerima. Tidak ada amarah, hanya doa dan keyakinan bahwa kejadian yang menimpa Farhan, semua telah digariskan. Farhan dimakamkan di Bangkalan, di tanah kelahiran ayahnya. Mereka mengantar kepulangan anak pertama dari dua bersaudara itu dengan hati yang nyaris runtuh, tapi pasrah. Karena mereka percaya, Farhan pulang dalam keadaan terbaik. Gedung tiga lantai termasuk musala di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran itu ambruk, Senin (29/9) pekan lalu. Saat kejadian, Farhan bersama ratusan santri lainnya tengah melaksanakan Salat Asar berjemaah di gedung yang masih dalam tahap pembangunan tersebut. Hingga akhir pencarian, Selasa (7/10), Basarnas mencatat total korban mencapai 171 orang. Terdiri dari 104 selamat, 67 meninggal dunia, termasuk 8 body part atau bagian tubuh. Rabu (8/10) kemarin, tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Jatim juga telah berhasil mengidentifikasi 40 jenazah korban tragedi Ponpes Al Khoziny.


