Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah meluncurkan program Kemudahan Usaha Mikro untuk Bermitra (Kumitra) sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem rantai pasok nasional. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peluang usaha, kapasitas pelaku usaha mikro, serta integrasi mereka dalam rantai pasok formal, baik di tingkat nasional maupun global. Menurut Menteri UMKM Maman Abdurrahman, banyak pelaku usaha mikro mengalami kesulitan karena harus berjuang sendirian tanpa pasar yang pasti. Kumitra hadir sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.
Data dari Kementerian Investasi/BKPM mencatat bahwa sejak tahun 2022 hingga 2024, terdapat 2.546 kesepakatan kemitraan antara usaha besar dan UMKM dengan nilai mencapai Rp15,9 triliun. Meskipun demikian, masih terdapat lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia yang belum terlibat dalam kemitraan, menunjukkan bahwa terdapat potensi yang besar untuk memperkuat ruang kemitraan. Selain memperkuat rantai pasok, program Kumitra juga fokus pada pemberdayaan kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.
Maman juga menyoroti bahwa sebagian besar pelaku usaha mikro adalah ibu rumah tangga, dan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus kepada penyandang disabilitas. Dalam acara tersebut, Menteri UMKM dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melepas ekspor perdana produk opak singkong produksi PT Gemilang Agro Inovasi ke Brunei Darussalam. Produk ini merupakan kreasi dari penyandang disabilitas di Sukabumi dan menjadi langkah positif untuk memperluas pasar ekspor Indonesia.


