Perkembangan terbaru dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China diperkirakan akan memberikan sentimen negatif terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memproyeksikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengalami fluktuasi pada perdagangan Senin, dipengaruhi oleh faktor-faktor domestik dan global. Pelaku pasar akan memperhatikan data Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia pada kuartal III-2025, serta perkembangan negosiasi dagang antara AS dan China. Proyeksi IHSG diperkirakan berada dalam kisaran 8.100-8.300 sepanjang minggu ini, tergantung dari perkembangan perang dagang tersebut.
Di sisi lain, presiden AS Donald Trump telah mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif tambahan 100% terhadap impor dari China dan melakukan kontrol ekspor terhadap perangkat lunak penting buatan AS mulai 1 November 2025. Hal ini merupakan respons terhadap langkah China yang memperketat pembatasan ekspor mineral tanah jarang. Perang dagang antara kedua negara ini berpotensi mengganggu rantai pasokan terutama di sektor industri teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.
Selain itu, pelaku pasar akan memonitor earning season kuartal III-2025 di bursa Wall Street, AS, dimana saham-saham perbankan mulai merilis laporan keuangan. Namun, shutdown pemerintah AS yang telah memasuki pekan ketiga juga mempengaruhi rilis beberapa data ekonomi AS. Dari Eropa, pasar akan memperhatikan produksi industri Euro Area, inflasi, indeks sentimen ZEW Jerman, data pasar tenaga kerja, dan PDB Inggris. Pada perdagangan minggu sebelumnya, bursa saham Eropa dan Wall Street mengalami penurunan, mencerminkan ketegangan dalam hubungan perdagangan global saat ini.


