Nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan Selasa terpantau melemah sebesar 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.603 per dolar AS. Hal ini disebabkan oleh kondisi pasar keuangan global yang masih terdampak oleh ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), menurut Taufan Dimas Hareva dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX. Meskipun ada perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga pada tahun depan, data ekonomi AS yang kuat dan penguatan indeks dolar membuat permintaan terhadap aset dolar kembali meningkat. Sentimen negatif juga berasal dari potensi perang tarif antara AS dan China, serta kekhawatiran atas kebuntuan anggaran di Washington yang dapat menyebabkan government shutdown. Ini mendorong investor untuk mengalihkan aset ke dolar AS dan emas sebagai safe haven. Taufan mencatat bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh minat risiko investor yang rendah di tengah sentimen global yang risk-off. Prediksi arah pergerakan rupiah ke depan akan tergantung pada data ekonomi AS, geopolitik global, dan langkah The Fed di masa mendatang. Kurs JISDOR Bank Indonesia hari ini justru menguat, meningkat ke level Rp16.577 per dolar AS. Intinya, pelemahan rupiah hari ini lebih disebabkan oleh faktor global yang masih negatif, meskipun ada sentimen positif terkait potensi penurunan suku bunga The Fed yang belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal.


