Pakar Industri Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu memberikan penilaian positif terhadap rencana pemerintah untuk menerapkan Bahan Bakar Minyak (BBM) E10, yang merupakan campuran Ethanol sebesar 10 persen. Menurut Yannes, langkah ini merupakan strategi yang tepat untuk memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor. Implementasi BBM E10 diharapkan dapat mengurangi impor BBM hingga 70 persen, menurunkan emisi CO, hidrokarbon, serta partikel tanpa memerlukan modifikasi signifikan. Kebijakan ini dianggap optimal secara konseptual karena selain memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, juga dapat menciptakan lebih dari 80.000 lapangan kerja baru di sektor pertanian.
Yannes juga menyampaikan bahwa kendaraan keluaran tahun 2010 ke atas telah siap untuk menggunakan BBM E10 berkat material tahan etanol, sistem injeksi modern, dan mesin standar emisi Euro 4 hingga Euro 5. Campuran etanol dalam BBM juga mampu meningkatkan angka oktan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan mengurangi kemungkinan knocking pada mesin.
Meskipun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah kesiapan produksi etanol dalam negeri yang masih terbatas. Yannes menyebutkan bahwa kapasitas produksi etanol dari sumber daya alam seperti molase tebu dan produk sampingan kelapa sawit belum mencukupi kebutuhan konsumsi BBM E10 di Indonesia. Hal ini berpotensi menimbulkan persaingan lahan dengan sektor pangan dan kenaikan harga BBM jika terpaksa mengandalkan impor etanol.
Untuk mencapai kemandirian energi yang diinginkan, Yannes menyarankan pemerintah untuk menggunakan pendekatan multi-jalur berdasarkan potensi wilayah agar implementasi kebijakan lebih efisien dan berkelanjutan. Pemerintah sendiri sedang menyusun peta jalan untuk implementasi BBM E10, dengan langkah awal yang terinspirasi dari keberhasilan kebijakan biodiesel. Implementasi BBM E10 masih menunggu persiapan pabrik etanol yang digunakan sebagai bahan baku.
Dengan demikian, implementasi BBM E10 diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM, memperkuat kemandirian energi nasional, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian. Langkah ini tentu harus diikuti dengan upaya peningkatan produksi etanol dalam negeri agar dapat mendukung keberlanjutan implementasi BBM E10 di Indonesia.


