Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi menguat karena adanya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Menurutnya, masih terdapat peluang bagi rupiah untuk menguat hari ini, karena nilai indeks dolar sedikit turun seiring dengan peningkatan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, dalam pertemuan National Association for Business Economics di Philadelphia, AS, menegaskan bahwa tidak ada jalur bebas risiko dalam kebijakan suku bunga, mengakui adanya ketegangan antara target ketenagakerjaan dan inflasi. Powell juga menyatakan bahwa The Fed akan menetapkan kebijakan berdasarkan evolusi prospek ekonomi dan keseimbangan risiko, bukan mengikuti jalur sebelumnya. Dalam situasi pemerintahan federal AS yang ditutup dan laporan data ekonomi resmi tertunda, Powell mengatakan bahwa bank sentral memiliki sumber data internal untuk mengawasi kesehatan ekonomi AS. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa prospek ketenagakerjaan dan inflasi relatif stabil sejak pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September 2025. Di pertemuan FOMC bulan Oktober, diprediksi The Fed akan kembali memangkas suku bunga sebesar seperempat poin pada akhir bulan ini. Selain itu, sentimen positif terhadap rupiah juga datang dari rilis data Bank Indonesia (BI) terkait utang luar negeri dan survei kegiatan dunia usaha. Rully mengatakan bahwa utang luar negeri pemerintah hingga Agustus 2025 diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,5 persen menjadi sekitar 475 miliar dolar AS.


