Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah sebesar 49 poin atau 0,29 persen menjadi Rp16.933 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.884 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi oleh berkurangnya ekspektasi pemotongan suku bunga AS. Menurutnya, serangkaian indikator ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang lebih tinggi dari perkiraan, mengakibatkan penurunan ekspektasi pemotongan suku bunga secara agresif tahun ini.
Data terakhir menunjukkan bahwa US Durable Goods Orders mengalami kontraksi sebesar 1,4 persen bulan ke bulan pada Desember 2025, setelah mengalami kenaikan sebesar 5,4 persen bulan sebelumnya. Namun, penurunan tersebut lebih ringan dari ekspektasi konsensus yang sebesar 2 persen. Di sektor properti, US Housing Starts mencapai angka 1,32 juta pada November 2025 dan 1,4 juta pada Desember 2025, melampaui ekspektasi pasar.
Untuk sektor manufaktur, produksi Industri AS naik menjadi 0,7 persen bulan ke bulan pada Januari 2026, melampaui ekspektasi yang sebelumnya sebesar 0,4 persen. Pasar juga tengah menunggu rilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026 untuk mendapatkan panduan lebih lanjut tentang arah kebijakan suku bunga The Fed. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh peningkatan ketegangan geopolitik, terutama dalam perkembangan negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Di tingkat domestik, investor tetap berhati-hati menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) tentang kebijakan suku bunga BI.
Apabila BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen, rupiah diperkirakan akan berkisar antara Rp16.875 hingga Rp16.975 per dolar AS. Dengan pertimbangan berbagai faktor tersebut, pasar keuangan sedang dalam fase yang menantang dan memerlukan strategi yang tepat untuk menghadapinya.


