Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, telah menetapkan target untuk menyelesaikan pembangunan hilirisasi ayam terintegrasi dalam waktu 1,5 tahun. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memperkuat swasembada protein dan meningkatkan kapasitas ekspor produk unggas nasional. Amran mengungkapkan bahwa proyek ini telah dimulai dan diharapkan selesai dalam satu setengah tahun atau bahkan lebih cepat.
Saat ini, sektor ayam dan telur nasional telah mencapai tingkat swasembada bahkan melakukan ekspor. Oleh karena itu, langkah hilirisasi dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah. Proyek ini melibatkan pembangunan ekosistem terintegrasi mulai dari pabrik pakan, pembibitan ayam (day old chicken/DOC), hingga pengolahan produk akhir. Hal ini bertujuan untuk membuat rantai produksi lebih efisien dan berdaya saing global.
Dengan hilirisasi terintegrasi ini, pemerintah berharap Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai lumbung protein dunia yang didasarkan pada sektor unggas. Mendorong peningkatan ekspor secara berkelanjutan juga menjadi tujuan utama dari proyek ini. Hilirisasi ayam telah dimulai di enam daerah dengan tujuan untuk memperkuat swasembada protein nasional, meningkatkan nilai tambah, dan menjaga stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Langkah strategis ini ditandai dengan dimulainya proyek Groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Fase I di enam titik di berbagai daerah, yang dipusatkan di Malang, Jawa Timur. Dengan demikian, pembangunan hilirisasi ayam terintegrasi diharapkan akan membawa dampak positif yang signifikan bagi sektor pertanian nasional dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.


