Pada perdagangan Rabu ini, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau yang akrab disapa Nico, mengungkapkan proyeksi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah. Sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan IHSG berasal dari tingkat global, khususnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang masih menjadi sorotan para pelaku pasar. Nico juga menyebutkan bahwa IHSG berpotensi melemah terbatas dengan rentang support dan resistance di angka 7.860-8.150 berdasarkan analisa teknikal.
Dalam perkembangan terkini, Presiden AS, Donald Trump, telah memberikan jaminan asuransi dan pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal tanker minyak yang melalui Selat Hormuz sebagai langkah pencegahan terhadap potensi krisis energi. Hal ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi pelaku pasar terkait inflasi global akibat kenaikan harga energi. Namun, pelaku pasar dan investor masih cenderung memiliki pandangan negatif terhadap konflik ini, yang berpotensi mempengaruhi penurunan pasar saham dan obligasi global.
Di sisi lain, dari dalam negeri, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mengeluarkan informasi terkait kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen. Informasi tersebut diharapkan dapat memberikan referensi yang lebih akurat bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi, serta memperkuat kepercayaan dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Terkait industri pertambangan, Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menerbitkan peraturan menteri baru terkait Harga Mineral Acuan (HMA) nikel yang akan berlaku mulai Maret 2026, sebagai respons atas usulan APNI. Revisi ini diharapkan dapat memperbaiki formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang sebelumnya menyebabkan kerugian besar bagi industri tambang nikel. Meskipun ada potensi dampak pada biaya bahan baku smelter domestik dan margin industri pengolahan, kebijakan ini dianggap sebagai sentimen positif bagi emiten tambang nikel.
Di sesi perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa dan AS mengalami pelemahan secara keseluruhan. Euro Stoxx 50, FTSE 100, DAX Jerman, serta CAC Prancis turun signifikan di Eropa, sementara indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite juga melemah di Wall Street. Perkembangan ini menjadi perhatian para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi di tengah kondisi global yang fluktuatif. Selalu update dengan informasi terkini bursa saham dan kondisi ekonomi bisa membantu para investor untuk membuat keputusan yang lebih tepat dan cermat.


