Tekanan Rupiah dan Harga Minyak Bisa Tambah Defisit Rp200 Triliun
Jakarta – Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan bahwa lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah beban defisit APBN hingga Rp200 triliun. Berdasarkan simulasi perhitungan dari Permata Institute of Economic Research (PIER), tambahan defisit APBN diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp200 triliun apabila rata-rata nilai tukar rupiah berada di level Rp17.400 per dolar AS dan harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel.
Menurut Josua, lonjakan harga minyak mentah tidak hanya akan mempengaruhi biaya impor energi, tetapi juga akan memberikan tekanan pada subsidi energi, inflasi, biaya logistik, dan ruang fiskal pemerintah. Harga minyak mentah Brent saat ini masih berada di level tinggi, bahkan mendekati rata-rata 86 dolar AS per barel sejak awal tahun, jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN sekitar 70 dolar AS per barel.
Skenario Terburuk
Josua juga menyampaikan bahwa skenario terburuk dapat terjadi apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas dan mendorong harga minyak melampaui 130 dolar AS per barel. Meski pemerintah memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun, kenaikan inflasi dan depresiasi rupiah berkepanjangan berpotensi menggerus ruang fiskal tersebut dalam waktu dekat.
Maka dari itu, Josua menekankan pentingnya pemerintah menetapkan skala prioritas belanja di tengah tekanan geopolitik. Belanja negara ke depan perlu diarahkan pada sektor-sektor produktif agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek maupun menengah.
Di masa yang akan datang, diharapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih berkualitas dengan dukungan belanja prioritas yang memfokus pada sektor-sektor yang strategis.


