Rupiah Bergerak Dipengaruhi Sentimen Eksternal
Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terus dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen eksternal yang memengaruhi pasar uang. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyoroti salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupiah, yaitu antisipasi pengumuman Departemen Keuangan AS terkait rencana buyback surat utang.
Dampak Pengumuman Departemen Keuangan AS
Menurut Josua Pardede, investor sedang fokus mengantisipasi pengumuman Departemen Keuangan AS terkait rencana buyback surat utang UST bertenor panjang. Dolar AS sendiri sedang berada di bawah tekanan akibat ekspektasi pasar terhadap pengumuman tersebut. Meskipun sebelumnya telah ada indikasi bahwa total buyback mencapai minimal 4 miliar dolar AS, beberapa analis memperkirakan jumlahnya bisa lebih besar.
Sementara itu, yen Jepang terus menguat setelah peringatan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, kepada pelaku pasar untuk tidak mengambil posisi yang berlawanan dengan yen. Bessent sendiri menyatakan bahwa ia memiliki wawasan yang cukup baik terkait kebijakan Bank of Japan dalam menghadapi masalah yen.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Rupiah
Selain faktor pengumuman Departemen Keuangan AS, pasar juga mencermati data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang berpotensi mempengaruhi kebijakan Federal Reserve. Harga minyak yang terus menguat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah juga menjadi faktor lain yang memengaruhi pergerakan rupiah. Di sisi lain, penurunan persediaan minyak mentah AS dan serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia juga turut mempengaruhi pasar.
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan akan berada dalam kisaran Rp17.475-Rp17.600 per dolar AS. Pasar terus mengawasi perkembangan eksternal yang bisa memengaruhi nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan.


