Earbuds Bluetooth semakin lekat dengan aktivitas sehari-hari, mulai dari mendengarkan musik hingga menemani pekerjaan dan olahraga. Namun, penggunaan perangkat yang ditempatkan dekat telinga ini juga memunculkan kekhawatiran, terutama mengenai paparan radiasi dan kemungkinan gangguan kesehatan.
Kekhawatiran terhadap radiasi radiofrequency (RF) yang dipancarkan earbuds Bluetooth belum terbukti berhubungan dengan kanker otak. Perangkat tersebut menggunakan radiasi non-pengion dengan tingkat energi yang sangat rendah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui laporan mengenai radiasi non-pengion dan kesehatan, jenis radiasi ini tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA atau sel manusia secara langsung.
Selain itu, nilai Specific Absorption Rate (SAR) pada earbuds Bluetooth disebut berada jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan badan regulasi internasional. Karena itu, klaim bahwa penggunaan earbuds Bluetooth dapat memicu kanker otak belum memiliki bukti ilmiah yang mendukung.
Risiko yang lebih nyata berasal dari suara dan pemakaian
Meski isu radiasi belum terbukti sebagai ancaman kesehatan, penggunaan earbuds secara terus-menerus tetap dapat menimbulkan risiko lain. Ancaman yang paling perlu diperhatikan berkaitan dengan volume suara dan durasi pemakaian.
Paparan suara dengan volume tinggi yang disalurkan langsung ke dalam saluran telinga berpotensi menyebabkan noise-induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan. Kondisi tersebut terjadi ketika sel-sel rambut halus di dalam koklea, bagian telinga dalam, mengalami kerusakan. Sel-sel ini tidak dapat memulihkan diri atau beregenerasi setelah rusak.
Desain earbuds yang masuk ke saluran telinga juga dapat menutup sirkulasi udara alami. Keadaan yang lembap dapat menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri sehingga meningkatkan risiko infeksi. Pada saat yang sama, penggunaan earbuds dapat mendorong kotoran telinga masuk lebih dalam dan memicu penumpukan atau cerumen impaction.
Risiko lain adalah kelelahan telinga atau auditory fatigue. Mendengarkan suara dalam durasi panjang tanpa jeda membuat bagian-bagian di dalam telinga bekerja lebih keras. Dampaknya dapat berupa telinga berdengung atau tinnitus, serta rasa pusing.
Penggunaan tetap perlu dibatasi
Dengan demikian, persoalan kesehatan yang berkaitan dengan earbuds Bluetooth bukan terutama berasal dari radiasi non-pengionnya, melainkan dari cara perangkat digunakan. Pemakaian dalam waktu lama dan tanpa batasan yang jelas dapat meningkatkan paparan suara serta memperbesar kemungkinan munculnya gangguan pada telinga.
Pengguna perlu mewaspadai penggunaan earbuds yang berlangsung terus-menerus, terutama ketika disertai volume tinggi. Kebersihan perangkat dan kondisi telinga juga menjadi perhatian karena earbuds berada langsung di dalam saluran telinga dan dapat memengaruhi sirkulasi udara maupun posisi kotoran telinga.


