Hari Lansia Internasional yang diperingati setiap 1 Oktober pada 2026 mengangkat tema “The Age of Longevity: Rethinking Systems for Longer Lives” atau “Era Harapan Hidup yang Tinggi: Merancang Ulang Sistem untuk Usia yang Lebih Panjang.” Tema ini menyoroti meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan kebutuhan untuk menyesuaikan sistem sosial, kesehatan, perlindungan, serta kehidupan bermasyarakat dengan usia harapan hidup yang semakin panjang.
Peringatan tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk menghargai kontribusi orang lanjut usia, tetapi juga untuk memperkuat perhatian terhadap kesehatan, kesejahteraan, hak, keselamatan, dan kesempatan mereka untuk tetap berpartisipasi dalam keluarga maupun masyarakat.
Perubahan demografi mendorong penyesuaian sistem
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai sekitar 1 miliar pada 2020. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 1,4 miliar pada 2030 dan mencapai 2,1 miliar pada 2050. WHO juga memperkirakan proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas naik dari 12 persen pada 2015 menjadi 22 persen pada 2050.
Dalam pesan Hari Lansia Internasional 2026, jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas juga diproyeksikan mencapai 2,1 miliar pada 2050, atau sekitar 20 persen dari populasi dunia. Pertumbuhan tersebut diperkirakan berdampak pada berbagai bidang, termasuk layanan kesehatan, perlindungan sosial, pekerjaan, perumahan, dan kehidupan bermasyarakat.
Menua tidak hanya berkaitan dengan pertambahan usia. Lingkungan tempat tinggal, dukungan keluarga dan masyarakat, serta akses terhadap layanan kesehatan turut menentukan kemampuan seseorang untuk tetap mandiri dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sejarah penetapan Hari Lansia Internasional
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 1 Oktober sebagai International Day of Older Persons melalui Resolusi 45/106 pada 14 Desember 1990. Peringatan itu mulai dilaksanakan secara global pada 1991.
Penetapan tersebut didahului World Assembly on Ageing pada 1982 yang menghasilkan Vienna International Plan of Action on Ageing. Dokumen itu menjadi salah satu dasar upaya internasional dalam menghadapi perubahan populasi dan kebutuhan masyarakat lanjut usia.
Pada 1991, PBB mengadopsi United Nations Principles for Older Persons yang memuat prinsip kemandirian, partisipasi, perawatan, pemenuhan diri, dan martabat lansia. Sementara itu, Second World Assembly on Ageing pada 2002 menghasilkan Madrid International Plan of Action on Ageing untuk merespons peluang dan tantangan penuaan penduduk pada abad ke-21.
Perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi
Hari Lansia Internasional juga menyoroti kebutuhan untuk membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung. Isu yang menjadi perhatian mencakup akses terhadap layanan kesehatan, perlindungan sosial, tempat tinggal, kesempatan bekerja, pendidikan sepanjang hayat, serta perlindungan dari diskriminasi berdasarkan usia.
WHO memperkirakan sekitar satu dari enam orang berusia 60 tahun ke atas mengalami kekerasan setiap tahun di lingkungan komunitas. Kekerasan itu dapat berbentuk fisik, seksual, psikologis, emosional, finansial, penelantaran, hingga tindakan yang menghilangkan martabat.
Upaya perlindungan tersebut sejalan dengan Decade of Healthy Ageing 2021–2030, yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup lansia, keluarga, dan komunitas melalui perubahan pandangan terhadap usia dan ageism, pembangunan komunitas yang mendukung, layanan kesehatan terpadu, serta perluasan akses terhadap perawatan jangka panjang.


