Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan membantah kabar Waduk Bango di Pondok Labu, Cilandak, jebol. Genangan yang merendam permukiman warga di sekitar Jalan Bango 4 terjadi ketika hujan turun pada Rabu (30/9), sementara waduk tersebut masih berada dalam tahap pembangunan dan belum selesai dikerjakan.
Kepala Seksi Pemeliharaan Sudin SDA Jakarta Selatan Junjung Paulus mengatakan pekerjaan di Waduk Bango masih berlangsung. Ia menyebut proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan atau revitalisasi waduk.
“Waduk Bango, sepertinya lagi ada pekerjaan dinas. Iya (lagi revitalisasi), memang lagi ada pembangunan waduknya,” kata Junjung saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Ia menegaskan, kondisi waduk yang belum rampung tidak dapat disebut sebagai jebol. “Itu masih on progres,” ujarnya.
Genangan mencapai 60 sentimeter
Warga RT 9, Oji, mengatakan hujan pada Rabu menyebabkan air menggenangi empat rukun tetangga di Jalan Bango 4. Wilayah yang terdampak meliputi RT 9, RT 10, RT 11, dan RT 14, dengan ketinggian air sekitar 60 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa.
Menurut Oji, RT 9 menjadi kawasan yang paling parah terdampak. Ia menjelaskan, sebagian aliran air di sekitar RT 10 telah dibendung, sedangkan air yang masuk dari arah kali tidak dapat ditanggulangi dengan cara serupa di wilayah RT 9.
“Tapi yang terparah ini RT 9. Karena dari pihak RT 10 sudah dibendung, air yang dari kali itu tidak bisa ditanggulangi. Sementara kalau dari sini kan tidak bisa dibendung,” kata Oji.
Ia menduga genangan berkaitan dengan masuknya air kali melalui sodetan yang berada di bawah jembatan. Selain itu, sistem pompa di lokasi proyek disebut belum berfungsi secara maksimal.
Warga minta penjelasan prosedur proyek
Oji menuturkan, kapasitas waduk saat ini belum mampu menahan debit air sehingga aliran air berbalik menuju permukiman. Kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya, ketika pompa air telah siap digunakan untuk menyedot air dari kawasan warga dan mengalirkannya kembali ke kali.
“Kalau sebelumnya sudah ada, cuma ada pompa airnya yang sudah siap. Jadi kalau air masuk ke warga, sudah disedot duluan dan dibuang ke kali. Kalau ini mesinnya sementara belum maksimal. Kalau ada darurat baru digunakan,” ujarnya.
Atas kondisi itu, warga berharap pengelola proyek memberikan penjelasan mengenai prosedur operasional standar (SOP) selama pembangunan berlangsung. Penjelasan tersebut dinilai diperlukan agar warga mengetahui mekanisme penanganan air dan aktivitas proyek tidak menimbulkan dampak terhadap permukiman di sekitarnya.


