KAI Incar Pendapatan Rp66 Triliun dengan Perluasan Jaringan Rel Lebih dari 7.000 km
PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menetapkan target pendapatan sebesar Rp66 triliun pada tahun 2030 seiring dengan rencana perluasan jaringan rel hingga lebih dari 7.000 kilometer. Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan hal ini dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI.
Perluasan Jaringan Rel dan Pendapatan Target
Pada saat ini, panjang rel yang dikelola oleh KAI mencapai 6.700 km dengan pendapatan sebesar Rp35,7 triliun. Namun, dengan rencana perluasan jaringan rel hingga lebih dari 7.000 km, KAI menargetkan pendapatan mencapai Rp66 triliun pada tahun 2030.
Bobby menjelaskan bahwa KAI telah merumuskan roadmap untuk mencapai visi sebagai operator kelas dunia berdasarkan standar yang ditetapkan International Union of Railways (UIC). Transformasi perusahaan dibagi ke dalam lima tahap hingga tahun 2045.
Rencana Tahap Pengembangan
Pada tahap pertama, KAI fokus pada pembangunan fondasi transformasi dan penguatan kredibilitas perusahaan yang dijadwalkan berlangsung hingga tahun 2025. Tahap kedua pada 2030, perusahaan akan meningkatkan kapabilitas inti untuk mencapai standar operator kereta kelas dunia.
Selanjutnya, pada tahap ketiga di 2035, KAI akan mengoperasikan sistem perkeretaapian yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada produktivitas. Pengembangan jaringan kereta penumpang, layanan angkutan barang, serta pembangunan TOD di kawasan prioritas termasuk dalam fokus pengembangan perusahaan.
Peningkatan Pangsa Pasar Moda Transportasi Kereta Api
Pada tahap berikutnya yang ditargetkan tercapai pada tahun 2040, KAI akan fokus pada peningkatan berkelanjutan pangsa moda transportasi kereta api untuk penumpang dan barang. Selain itu, ekspansi TOD dan peningkatan kontribusi pendapatan dari eksplorasi bisnis juga menjadi prioritas perusahaan.
Dengan total pendapatan mencapai Rp35,7 triliun pada 2025, KAI terus berupaya mengoptimalkan layanan dan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia.


